Kisah Mereka yang Pulang Berubah

Seorang ibu rumah tangga dari Cirebon, sebut saja Bu Siti, bercerita dalam sebuah kajian: “Saya ke umroh usia 45 tahun. Dulu, saya orangnya pemarah. Kalau pembantu salah sedikit, saya teriak-teriak. Suami saya sampai kapok diajak ngomong. Setelah umroh, saya nggak langsung berubah. Tapi setiap kali marah mau meledak, saya tiba-tiba ingat Ka’bah. Saya ingat bagaimana …

Continue reading →

“Self-Reward” Menjadi Konten Unggulan

Di antara jutaan konten yang membanjiri layer HP kita, konten perjalanan adalah salah satu yang paling viral, paling diminati. Apa alasan psikologis di balik itu: menonton orang lain traveling memberikan hiburan sekaligus aspirasi. “Orang suka menonton orang lain yang mirip dengan mereka hidup nyaman, bepergian, dan merawat diri sendiri, meskipun hanya beberapa menit di layar,” tulis Daily Trust dalam …

Continue reading →

Racun Halus Algoritma

Mari kita bedah bagaimana media sosial bekerja. Di balik layar, ada mesin raksasa yang disebut algoritma. Tugasnya sederhana: membuat kita terus scrolling selama mungkin. Caranya? Memberi konten yang paling mungkin membuat kita terpaku. Lulu Nelleman, 25 tahun, seorang aktivis kesehatan mental dari Denmark, mengalaminya sendiri. Setelah ia mulai mencari konten tentang kesehatan mental, algoritma Instagram mulai …

Continue reading →

Hidup Menjadi Konten, Konten Menjadi Hidup

Generasi Z dan Milenial adalah generasi pertama dalam sejarah yang tumbuh dengan kamera di saku dan dunia di ujung jari. Bagi mereka, platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube bukan sekadar aplikasi, melainkan arena utama di mana identitas dibentuk, diekspresikan, dan divalidasi. Tapi ada harga yang harus dibayar. Psikolog Christie Saju menjelaskan bahwa media sosial sering menampilkan versi …

Continue reading →