Mari kita bedah bagaimana media sosial bekerja. Di balik layar, ada mesin raksasa yang disebut algoritma. Tugasnya sederhana: membuat kita terus scrolling selama mungkin. Caranya? Memberi konten yang paling mungkin membuat kita terpaku.

Lulu Nelleman, 25 tahun, seorang aktivis kesehatan mental dari Denmark, mengalaminya sendiri. Setelah ia mulai mencari konten tentang kesehatan mental, algoritma Instagram mulai merekomendasikan hal-hal yang lebih ekstrem—foto nisan orang-orang muda yang meninggal, gambar orang dengan berat badan sangat rendah. “Saya sering bilang ke teman-teman, ‘Instagram sudah tahu kalau saya sakit jiwa.’ Facebook belum tahu,” candanya pahit .

Ini bukan kebetulan. Ini desain.

Algoritma tidak peduli dengan kesehatan mental kita. Ia peduli dengan waktu layer kita. Dan konten yang paling efektif menahan agar kita berlama-lama di depan layar adalah konten yang memicu emosi—termasuk iri, cemas, dan FOMO (Fear of Missing Out).

Dampaknya? Sebuah penelitian dari Nuffield Foundation mengungkapkan bahwa hampir separuh (48%) anak muda usia 14-22 tahun merasa bahwa hidup orang lain lebih baik dari pada hidup mereka sendiri setelah menggunakan media sosial . Lebih mengkhawatirkan lagi, 43% anak muda usia 18-22 tahun melaporkan dampak negatif pada citra tubuh, tampilan diri mereka akibat iklan dan konten di media sosial .

Psikolog Vera Itabiliana dari Universitas Indonesia menyebut media sosial sebagai “cermin kedua” yang memberikan validasi instan, pembenaran semu. Harga diri menjadi tergantung pada angka-angka digital: jumlah likes, jumlah komentar, jumlah shares, dan jumlah followers .

Bayangkan: harga diri ditentukan oleh algoritma yang tidak pernah tidur. Sungguh medan pertempuran yang tidak seimbang. Realitas kehidupan yang menyedihkan. Bagaimana dengan anda ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *