Di antara jutaan konten yang membanjiri layer HP kita, konten perjalanan adalah salah satu yang paling viral, paling diminati. Apa alasan psikologis di balik itu: menonton orang lain traveling memberikan hiburan sekaligus aspirasi. “Orang suka menonton orang lain yang mirip dengan mereka hidup nyaman, bepergian, dan merawat diri sendiri, meskipun hanya beberapa menit di layar,” tulis Daily Trust dalam analisisnya tentang fenomena lifestyle creator .
Banyak lifestyle creator, atau selebriti Indonesia, mengaku menghasilkan setidaknya puluhan atau ratusan juta rupiah per bulan hanya dari posting konten kesehariannya—termasuk traveling dan nongkrong di kafe. Ia bahkan diundang gratis ke restoran-restoran ternama untuk membuat konten. lalu dibayar mahal. Umumnya masyarakat senang menyaksikannya.
Perhatikan misalnya bagaimana anak muda dan emak-emak mengikuti dengan sepenuh hati Rafi Ahmad dan keluarga jalan-jalan di Italy. Seorang ustadzah kondang tengah jalan kaki di sebuah kota di luar negeri. Bahkan seseorang yang tidak dikenal sama sekali yang tengah nongkrong di sebuah Cafe di Paris. Banyak lagi contoh konten menarik dan viral yang menjadi acuan saat ini.
Konten liburan ke Eropa dirancang untuk itu: menampilkan momen terbaik, dengan filter terbaik, di lokasi wisata terbaik, agar mendapat likes sebanyak-banyaknya.
Di Indonesia, fenomena serupa terjadi dengan skala sangat lebih besar. Influencer traveling dengan puluhan ribu pengikut bisa mendapat bayaran jutaan rupiah untuk satu postingan di Eropa. Lalu kebanyakan penontonnya hidup di dalam dunia khayal “andai aku di situ”, atau “suatu saat nanti aku juga akan ada di sana”. Akhirnya kita menilai diri sendiri dengan capaian orang lain yang ada di layar, tidak peduli apa yang tampil di kaca itu bukan yang sebenarnya, akibat olesan teknologi. Semoga kita tidak demikian.