Generasi Z dan Milenial adalah generasi pertama dalam sejarah yang tumbuh dengan kamera di saku dan dunia di ujung jari. Bagi mereka, platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube bukan sekadar aplikasi, melainkan arena utama di mana identitas dibentuk, diekspresikan, dan divalidasi.
Tapi ada harga yang harus dibayar.
Psikolog Christie Saju menjelaskan bahwa media sosial sering menampilkan versi realitas yang terdistorsi. “Mereka melihat cuplikan kehidupan teman-teman mereka, penuh dengan prestasi akademik, pesta-pesta sempurna, dan penampilan yang ideal,” katanya . Padahal, cuplikan itu hanya potongan saja, pojok terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan.
Fenomena ini membuat kita lupa bahwa setiap orang punya hari-hari buruk, badai finansial, dan perjuangan yang tidak ada fotonya. Yang kita lihat di media sosial adalah etalase, bukan gudang. Yang kita bandingkan adalah hasil akhir orang lain dengan proses kita sendiri. Dan di situlah masalah dimulai.
“Segitu mudahnya orang bercerita di medsos tanpa saringan,” ujar Psikolog Pendidikan Karina Adistiana. “Langsung posting, padahal baru kerja sekali tapi udah langsung dapet gaji besar.”
Akibatnya? Generasi muda mengalami kecemasan karena merasa “belum sukses” di usia yang masih sangat muda. Baru beberapa bulan lulus kuliah dan belum bekerja? Panik. Lihat teman sudah punya mobil? Gelisah. Lihat influencer traveling ke Eropa? Muncul pertanyaan: “Kapan gue bisa kayak gitu?”