Pengertian “mampu” (istitha’ah) pada masa Rasulullah SAw memiliki makna yang lebih mendasar, lurus, dan kontekstual dengan kehidupan saat itu. Saat ditanya, Rasulullah SAW menafsirkannya secara ringkas dan padat yang langsung menyentuh inti persoalan umat.

📜 Definisi Inti dari Rasulullah

Saat ayat Ali Imran ayat 97 turun, para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang makna “as-sabil” (jalan) yang disebut dalam ayat tersebut, dan beliau menjawab: “Al-zaad wa al-raahilah” â€” bekal dan kendaraan. Inilah inti pemahaman kemampuan untuk berhaji pada masa itu, yang kemudian menjadi landasan bagi para ulama di masa-masa berikutnya.

📦 Empat Komponen Kemampuan

Dari penjelasan Rasulullah dan implementasinya di masa beliau, setidaknya ada empat komponen utama yang harus dipenuhi:

  1. Bekal yang Cukup (Al-Zaad): Memiliki bekal yang cukup untuk seluruh perjalanan pergi dan pulang, termasuk makanan, minuman, dan perlengkapan lain selama berada di tanah suci.
  2. Kendaraan (Al-Raahilah): Adanya alat transportasi yang dapat mengantarkan jamaah ke Makkah dan kembali ke kampung halaman. Di masa itu, kendaraan utamanya adalah unta. Memiliki unta berarti memiliki sarana untuk menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.
  3. Kesehatan Fisik: Kondisi badan harus sehat dan kuat untuk bisa melakukan perjalanan yang melelahkan. Para ulama dan sahabat di masa itu memahami bahwa fisik yang lemah atau sakit yang menahun menjadi penghalang untuk berhaji.
  4. Keamanan Perjalanan (Aman): Faktor ini sangat krusial di masa awal Islam. Para jamaah haji harus mendapatkan jaminan keamanan dari gangguan atau bahaya yang mengancam jiwa dan harta selama di perjalanan.

💰 “Kaya” di Masa Rasulullah: Beda Zaman, Beda Makna

Konsep “kaya” di masa itu sangat berbeda dengan sekarang. Kekayaan di zaman Nabi SAW lebih pada kecukupan dalam kesederhanaan, bukan kemewahan.

  • Prioritas: Indikator kemampuan utama bukanlah punya harta berlebih, melainkan adanya kelebihan (fadhah) dari kebutuhan pokok untuk diri sendiri dan keluarga yang ditinggalkan.
  • Sistem Ekonomi: Ekonomi saat itu didasarkan pada perdagangan dan barter. Tidak ada biaya administrasi, visa, atau akomodasi seperti di era modern.
  • Esensi Ibadah: Yang ditekankan Rasulullah adalah kesederhanaan, pengabdian, dan persamaan di hadapan Allah. Semua jamaah, kaya atau miskin, berpakaian dan beribadah dengan cara yang sama.

🔄 Perbandingan Konsep “Mampu” Masa Lalu vs Modern

Perbedaan kondisi zaman membuat konsep “istitha’ah” juga berkembang. Berikut perbandingan singkatnya:

AspekMasa Rasulullah SAWMasa Modern (Konteks Indonesia)
FinansialBekal dan kendaraan (unta).Ongkos Naik Haji (ONH), biaya transportasi, akomodasi, konsumsi.
AdministrasiTidak ada.Memiliki paspor, visa haji, dan mematuhi kuota yang ditetapkan.
KesehatanSehat jasmani, kuat untuk perjalanan jauh dengan kendaraan.Sehat jasmani dan rohani, bebas dari penyakit menular dan kondisi yang membahayakan di tengah kerumunan massa.
KeamananAman dari gangguan fisik di jalan.Aman secara umum, termasuk dari potensi bencana, kerusuhan, dan kepastian hukum.

 

Jadi mampu atau “istitha’ah” juga terus berkembang sesuai waktu dan tempat. Masing-masing kita boleh saja mengembangkan konsep yang lebih sesuai dengan diri sendiri, asalkan jangan terus-terus menganggap diri kita sendiri “tidak mampu” padahal sudah punya rumah, punya mobil, punya pekerjaan tetap, penghasilan bulannya lumayan. Malu dengan “Tukang Bakso Naik Haji”. Semoga bermanfaat.

2 Comments

  1. Achmad Habibullah

    Tambah lagi untuk penuhi Istitha’ah:
    -tidak hanya sehat jasmani, juga hrs sehat ruhani.
    -tahu rukun dan sunnah Haji.
    -tahu ketentuan haji Tamattu’, haji Qiran, dan haji Ifrad.
    Selamat menjalankan ibadah Haji 1447H wahai duyufurrahman jamaah haji Indonesia, semoga lancar dan sehat selalu serta mabrur.
    “Zawwadakallahut taqwaa
    Wa yassara lakal khaira haitsumma kunta”, aamiin🤲🤲

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *