Dalam ibadah haji, ada kegiatan melontar jumrah: melempar batu kecil, 21 kali, dan dilakukan beberapa hari berturut-turut. Terlepas dari makna relijius, pola “melontar berulang-ulang” ternyata menyimpan pelajaran yang sangat manusiawi. Hidup kita pun penuh momen yang menuntut tindakan serupa: tegas, berulang, dan konsisten.
1. Pengulangan membentuk kebiasaan
Satu lemparan batu tidak akan mengubah apa-apa. Tapi 21 kali, selama 2-3 hari, membuat tangan, mata, dan pikiran terbiasa dengan gerakannya. Begitu juga dalam hidup. Satu kali menolak kebiasaan buruk jarang berhasil. Otak butuh repetisi untuk membangun jalur baru. Mau berhenti merokok, rajin olahraga, atau lebih sabar? Butuh “lemparan” yang diulang sampai jadi refleks.
2. Melontar adalah simbol ketegasan
Gerakan melontar itu tegas, terarah, dan butuh tenaga. Kita tidak melempar dengan ragu-ragu. Dalam hidup, ada hal-hal yang memang harus kita “lempar jauh” dari diri: pikiran negatif, dendam, rasa takut gagal, atau lingkungan yang toxic. Dan seringnya, sekali saja tidak cukup. Godaan dan pola lama akan datang lagi. Karena itu kita perlu melontar berulang — menegaskan ulang pilihan kita setiap kali godaan muncul.
3. Proses, bukan sekali jadi
Mengapa tidak cukup sekali lempar? Karena perubahan sejati jarang instan. Trauma tidak sembuh dalam sehari. Kebencian tidak hilang sekali maaf. Disiplin tidak terbentuk sekali niat. Ritual melontar yang berhari-hari mengingatkan: kesembuhan, pembebasan, dan pertumbuhan adalah proses. Kita melontar hari ini, besok, dan lusa, sampai benar-benar terasa lapang.
4. Melontar melatih fokus di tengah keramaian
Jutaan orang melontar di tempat yang sama. Bising, berdesakan, panas. Tapi tiap orang fokus pada lontaran masing-masing. Hidup juga begitu. Saat masalah datang bertubi-tubi, kita mudah panik dan melempar asal-asalan. Melontar berulang melatih kita: tarik napas, bidik, lempar. Satu per satu. Fokus menyelesaikan satu “batu” dalam satu waktu, bukan melempar semuanya sekaligus.
5. Pengulangan mengikis ego
Awalnya mungkin kita melontar dengan emosi: marah, kesal, ingin cepat selesai. Tapi di lemparan ke-10, ke-20, ke-50, emosi itu luntur. Yang tersisa hanya gerakan sadar. Ini mirip dengan memaafkan atau melepaskan. Pertama kali susah dan sakit. Tapi setelah diulang-ulang — diingatkan kembali pada diri sendiri “aku memilih melepas ini” — perlahan beban itu mengecil. Ego kita dikikis oleh konsistensi.
Bukan tentang batunya, tapi tentang tangan yang melempar
“Melontar berulang-ulang kali” adalah latihan manusia untuk berani menolak, berani melepas, dan berani konsisten. Setiap orang punya “jumrah”-nya sendiri: rasa malas yang harus dilempar tiap pagi, rasa minder yang harus dibuang tiap kali mau presentasi, atau luka lama yang harus direlakan sedikit demi sedikit.
Jadi, mengapa manusia harus melontar berulang-ulang? Karena satu kali tekad saja tidak cukup untuk mengalahkan kebiasaan bertahun-tahun. Karena satu kali keberanian saja tidak cukup untuk merdeka dari yang membelenggu.
Hidup menuntut kita jadi pelempar yang tekun. Lempar. Ulangi. Sampai lega.
Machsus
Bagus sekali
Tarmizi S
Terima kasih pak. Semoga bermanfaat. Ditunggu komentar untuk tulisan kami lainnya.