Di masjid Nabawi, usai shalat, Rasulullah SAW duduk bersama para sahabat. Wajah beliau teduh, tapi sorot matanya seperti menembus jarak dan waktu. Tiba-tiba beliau berkata:

“Wahai Umar, wahai Ali. Sepeninggalku nanti, akan datang kepada kalian seorang lelaki dari Yaman. Namanya Uwais bin Amir, dari kabilah Murad, dari suku Qaran. Dia punya ibu dan dia sangat berbakti kepadanya. Dulu dia pernah berpenyakit belang, lalu berdoa kepada Allah dan disembuhkan, kecuali tersisa sebesar dirham di tengkuknya. Itulah tandanya.”

Umar dan Ali saling berpandangan. Heran. Mereka belum pernah mendengar nama itu.

Rasulullah melanjutkan, suaranya pelan tapi berat: “Jika kalian bertemu dengannya, mintalah dia memohonkan ampun untuk kalian kepada Allah. Karena dia adalah orang yang doanya tidak tertolak. Dia tidak dikenal di bumi, tapi terkenal di langit.”

Para sahabat terdiam. Bagaimana bisa seorang yang tak pernah ikut perang, tak pernah duduk di majelis Nabi, justru dipuji setinggi itu oleh manusia paling mulia?

Tahun berganti. Rasulullah SAW wafat. Kekhalifahan Abu Bakar berlalu. Tiba masa Umar bin Khattab menjadi khalifah. Setiap musim haji, Umar selalu berdiri di perbukitan Mina, menatap kafilah-kafilah Yaman yang datang. Dari atas mimbar, dia akan berseru:

“Wahai penduduk Yaman, apakah di antara kalian ada Uwais bin Amir?”

Tahun pertama: tak ada yang menjawab.
Tahun kedua: sama.
Tahun ketiga: sama.

Sampai suatu musim haji, datanglah rombongan dari Kufah. Umar kembali bertanya dengan suara bergetar, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir dari Murad, dari Qaran?”

Seorang lelaki menjawab, “Ada, wahai Amirul Mukminin. Tapi dia orang biasa saja. Penggembala. Pakaiannya lusuh. Dia lebih suka menyendiri. Untuk apa engkau mencarinya?”

Dada Umar bergemuruh. Diraihnya lengan Ali bin Abi Thalib. “Demi Allah, ini dia!”

Mereka bergegas menyusul Uwais ke perkemahan. Ditemukanlah seorang lelaki kurus, bajunya bertambal, sedang memperbaiki pelana. Wajahnya teduh, tapi ada kesedihan yang dalam.

Umar mendekat. “Engkaukah Uwais bin Amir?”
“Benar,” jawabnya pelan.
“Apakah engkau punya ibu?”
“Dulu punya. Beliau sudah wafat.” Mata Uwais berkaca-kaca.
“Apakah engkau dulu sakit belang lalu sembuh, kecuali sedikit di tengkukmu?”

Uwais terkejut. Perlahan dia buka bagian tengkuknya. Benar. Ada bulatan putih sebesar dirham.

Umar dan Ali langsung menangis. Mereka peluk Uwais.
“Rasulullah SAW menitipkan salam untukmu. Beliau menyuruh kami meminta agar engkau memohonkan ampun kepada Allah untuk kami.”

Uwais gemetar. Dia mundur selangkah. “Aku? Memintakan ampun untuk kalian? Kalian sahabat Nabi, kalian lebih mulia dariku!”

Umar menggenggam tangannya. “Wahai Uwais, Rasulullah yang berkata. Doamu didengar langit karena baktimu pada ibumu. Demi Allah, jangan tolak kami.”

Saat itu juga Uwais tersungkur. Lama dia berdoa untuk Umar, untuk Ali, untuk seluruh kaum muslimin. Setelahnya, dia meminta satu hal: “Tolong rahasiakan aku. Aku takut jadi terkenal di bumi. Cukuplah aku dikenal Allah.”

Maka sejak itu, Uwais menghilang dari keramaian. Dia kembali jadi penggembala yang asing. Tapi di sisi Allah, namanya harum semerbak.

Begitulah, Rasulullah SAW tak pernah bertemu Uwais di dunia. Tapi beliau yang paling mengenal kemuliaannya. Karena surga tidak diukur dari seberapa dekat jarakmu dengan Ka’bah, tapi seberapa dekat baktimu dengan ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *