Marjinalisasi dan Perlawanan
Pada periode ini (661-750M), kekhalifahan Islam bercorak Arab sentris. Bangsa Persia, yang baru saja ditaklukkan, diperlakukan sebagai mawali (klien atau non-Arab yang memeluk Islam).
- Status Sosial yang Rendah: Meskipun banyak orang Persia yang masuk Islam, mereka tidak mendapat status yang sama dengan Arab. Mereka harus bersekutu dengan kabilah Arab tertentu dan sering dikenakan pajak jizyah (pajak perlindungan) yang seharusnya hanya untuk non-Muslim. Hal ini menimbulkan ketidakadilan sosial yang akut.
- Birokrasi: Awalnya, Bani Umayah mempertahankan birokrasi Sassaniyah (Persia) di wilayah timur (Khorasan, Irak, Persia). Namun, bahasa resmi administrasi adalah Arab. Tokoh Persia seperti Ziyad bin Abihi dan putranya Ubaidillah bin Ziyad (yang merupakan putra dari ayah Persia) memang menjadi gubernur penting di Irak, tetapi mereka berasimilasi dengan budaya Arab dan menjadi alat kekuasaan Umayah.
- Gerakan Oposisi: Ketidakpuasan ini memicu gerakan bawah tanah. Para mawali Persia di Khorasan (timur laut Iran) menjadi basis utama gerakan Daulah Abbasiyah. Mereka bersatu dengan syiah (yang juga menentang Umayah) di bawah panji “Ahlul Bait” (keluarga Nabi). Gerakan ini dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasani, seorang pemimpin Persia yang karismatik, yang berhasil menggulingkan Bani Umayah dalam Pertempuran Zab tahun 750 M.
Kesimpulan: Bangsa Persia tidak berperan aktif dalam sistem kekuasaan pusat di Damaskus karena adanya diskriminasi. Peran mereka justru sebagai kekuatan oposisi yang paling efektif dan akhirnya menjadi ujung tombak kehancuran dinasti tersebut. Bagaimana bangsa Persia ketika zaman Bani Abbasiyah ? (Bersambung)