“Haji itu adalah Arafah.” Kalimat tegas dari Rasulullah SAW ratusan tahun lalu bukan sekadar petunjuk teknis rukun ibadah. Di balik deklarasi itu, ada sebuah peringatan simbolik yang maha dahsyat tentang hakikat kemanusiaan. Arafah adalah panggung teater terbesar di bumi di mana seluruh ego, pangkat, dan status sosial manusia dilebur menjadi nol.

Di hadapan Allah, kita semua sama. Tidak ada sekat sosial yang meninggikan satu individu di atas yang lain. Tidak ada warna budaya yang membuat satu bangsa merasa lebih mulia. Tidak ada pula angka-angka ekonomi yang bisa membeli derajat di mata Sang Pencipta.

Esensi inilah yang tercermin dari hamparan Padang Arafah yang autentik. Di sana, tempat duduk dan tempat berdiri setiap hamba adalah sama: di atas tanah yang berdebu. Atap pelindungnya pun sama: langsung langit luas yang disediakan oleh Allah. Jika langit sedang menumpahkan panas yang terik, semua merasakan sengatannya. Jika hujan deras dan angin kencang datang, semua basah kuyup dalam kepasrahan yang sama. Di situlah letak keindahan spiritualitas haji—sebuah simulasi hari mahsyar, di mana manusia hadir dengan ketelanjangan eksistensial yang mutlak.

Namun, mari kita tengok potret Arafah hari ini. Apakah maknanya masih se-substansial dulu?

Sayangnya, modernisasi dan komersialisasi ibadah perlahan mulai mengikis kebersahajaan tersebut.

Hari ini kita menyaksikan pemandangan yang kontras. Kemah-kemah di Arafah kini dikotak-kotakkan berdasarkan tebal tipisnya dompet jemaah. Ada kemah super VIP dengan fasilitas super mewah, AC yang super sejuk, kasur empuk, pelayanan eksklusif, hingga sajian makanan hotel bintang lima. Sementara di sudut lain, ada jemaah yang harus berdesakan dengan fasilitas seadanya bahkan tidak kebagian tempat .

Perbedaan fasilitas yang mencolok atas nama “kenyamanan” ini sesungguhnya telah mencederai makna hakiki dari berkumpul di Padang Arafah. Ketika status duniawi kembali dibawa-bawa ke tempat paling suci, esensi persamaan derajat itu seketika runtuh. Arafah yang harusnya menjadi ruang “pemberontakan” terhadap kasta-kasta dunia, justru bertransformasi menjadi replika stratifikasi sosial yang kita bawa dari rumah.

Tentu, menjaga kesehatan dan keselamatan jemaah adalah hal yang penting. Namun, ketika fasilitas mewah membuat sekat ego antar-manusia kembali menebal, kita perlu merenung kembali: apakah kita sedang berwukuf untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti yang dicontohkan Rasulullah, atau kita hanya sedang memindahkan kenyamanan duniawi ke tanah suci yang justeru takut kehilangan dunia ?

Jangan sampai, kemewahan kemah membuat kita pulang tanpa membawa substansi Arafah yang sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *