Pertanyaan ini sangat mendasar dalam teologi Islam. Tidak semua orang Islam memenuhi “panggilan” Allah (dalam berbagai bentuknya, termasuk panggilan khusus seperti haji maupun panggilan umum seperti shalat dan taubat) disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait: kehendak manusia (free will), kondisi objektif (uzur syar’i), dan tabiat keimanan itu sendiri.Berikut penjelasannya:

1. Ujian dengan Kehendak Bebas (Ikhtiar vs. Kemalasan)

Allah menciptakan manusia dengan ikhtiar (kebebasan memilih) dan nafsu. Tidak memenuhi panggilan Allah seringkali karena pilihan sadar manusia sendiri, seperti:

  • Sifat Lalai (Ghafilah): Hati yang terikat dengan urusan dunia (harta, tahta, wanita) sehingga “tuli” terhadap panggilan Allah. Allah berfirman: “Dan banyak sekali dari mereka yang Kami ciptakan untuk neraka, yaitu mereka yang memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami…” (Q.S. Al-A’raf: 179).
  • Mengikuti Hawa Nafsu: Lebih memilih kemudihan, kemalasan, atau kenikmatan sesaat daripada mematuhi perintah Allah.

2. Adanya Uzur Syar’i (Halangan yang Dimaklumi Agama)

Tidak semua orang Islam yang tidak memenuhi panggilan Allah berdosa. Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi mereka yang memiliki halangan syar’i. Contoh:

  • Untuk Ibadah Haji: Syarat wajib haji adalah istitha’ah (mampu). Jika seseorang tidak mampu secara finansial, fisik (sakit parah, tua renta), atau keamanan perjalanan, maka ia tidak berdosa karena belum “dipanggil” secara syarat objektif. Panggilan haji hanya mengikat yang mampu.
  • Untuk Shalat Jumat: Uzur seperti hujan lebat, sakit, atau takut kehilangan harta/jiwa membolehkan seseorang tidak memenuhinya.
  • Untuk Shalat Berjamaah: Sakit, mengurus jenazah, atau menjaga keamanan keluarga menjadi uzur.

3. Tingkatan Keimanan yang Berbeda-beda (Maratib al-Iman)

Manusia memiliki tingkat ketakwaan dan kesadaran spiritual yang beragam.

  • Mukmin yang taat: Merasakan panggilan Allah dengan cepat dan memenuhinya dengan penuh cinta.
  • Mukmin yang lemah (Fajir): Merasakan panggilan tetapi berat melaksanakannya karena imannya tipis.
  • Munafik: Hatinya tidak beriman, meski secara lahir mengaku Islam. Mereka tidak akan merasakan panggilan Allah sama sekali, atau jika merasakan, mereka mengabaikannya dengan sengaja.

4. Dosa dan Penghalang Spiritual (Hijab)

Dalam tasawuf (dimensi spiritual Islam), dosa yang terus-menerus (terutama dosa kecil yang dianggap remeh) dapat membentuk “hijab” (tabir) gelap di hati. Tabir ini memadamkan cahaya petunjuk sehingga telinga hati tidak mampu mendengar panggilan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba ketika melakukan dosa, maka akan terbentuk titik hitam di hatinya…” (HR. Tirmidzi).

5. Kurangnya Ilmu (Jahil)

Banyak muslim yang tidak memenuhi panggilan Allah karena tidak tahu bahwa Allah sedang memanggilnya. Contoh: seorang yang meninggalkan shalat subuh karena tidur, ia mungkin tidak menyadari bahwa Allah telah memanggilnya melalui adzan. Demikian pula banyak orang kaya yang tidak berhaji karena tidak tahu bahwa haji itu wajib bagi yang mampu, bukan sekadar sunnah.

6. Sifat-sifat Tercela (Ujub, Takabbur, Bakhil)

  • Takabbur (Sombong): Sombong untuk tunduk dan patut, seperti yang dilakukan Iblis.
  • Bakhil (Kikir): Menolak panggilan haji atau zakat karena cinta harta.
  • Ujub (Bangga Diri): Merasa sudah cukup baik sehingga tidak butuh “panggilan” Allah untuk bertobat.

Kesimpulan Perbandingan dengan Haji

AspekHaji (Panggilan Khusus)Panggilan Lain (Shalat, Taubat, Dll)
Sebab tidak dipenuhi90% karena tidak mampu finansial/fisik (uzur) atau 10% karena pelit/malas90% karena pilihan hati dan kelemahan iman (lalai, maksiat)
Status hukumTidak berdosa jika uzurBerdosa jika ditinggalkan tanpa uzur
SolusiMenabung, bekerja keras, atau berniat di hatiMemperbaiki iman, taubat, dan menghilangkan hijab

Jadi, jawaban singkatnya: Tidak semua orang Islam memenuhi panggilan Allah karena Allah memberikan kebebasan memilih untuk menjadi taat atau durhaka, serta adanya halangan riil bagi sebagian orang. Panggilan Allah adalah rahmat, bukan paksaan. Barang siapa yang memenuhi, ia beruntung; yang mengabaikan, ia merugi di dunia dan akhirat.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *