Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarika lak
Artinya:
Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.
Kalimat Talbiyah yang diucapkan jamaah haji sejak niat (ihram) hingga melempar jumrah Aqabah bukan sekadar ritual, melainkan pernyataan eksistensial yang mengandung makna teologis sangat dalam.
Makna Esensial per Frase
- “Labbaik Allahumma labbaik”
- Harafiah: “Aku siap memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, berulang-ulang.”
- Esensi: Ini adalah ikrar totalitas. Seperti seorang pembantu yang berkata “Saya siap, Tuanku” di hadapan rajanya. Maknanya:
- Tidak ada prioritas lain selain perintah Allah saat itu.
- Meninggalkan segala bentuk ego (rencana pribadi, kesenangan dunia).
- Merupakan jawaban atas “panggilan” Allah yang dibahas sebelumnya.
- “Labbaika la syarika laka labbaik”
- Esensi:Penegasan tauhid murni. Dengan mengulangi kalimat “tiada sekutu bagi-Mu”, jamaah:
- Menghancurkan segala bentuk kesyirikan (menyekutukan Allah), baik yang nyata (menyembah berhala) maupun tersembunyi (riya’, takut pada makhluk melebihi takut pada Allah).
- Menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi, dimintai tolong, dan ditakuti.
- Esensi:Penegasan tauhid murni. Dengan mengulangi kalimat “tiada sekutu bagi-Mu”, jamaah:
- “Innal hamda wan ni’mata laka”
- Esensi:Pengakuan total atas anugerah Allah.
- Hamd (pujian): Segala pujian sempurna hanya milik Allah, bukan karena perbuatan jamaah yang mulia.
- Ni’mah (nikmat): Semua kenikmatan (kesehatan, harta, kesempatan haji) berasal dari Allah, bukan hasil usaha sendiri. Ini mencegah ujub (bangga diri).
- Mulk (kerajaan): Kekuasaan mutlak atas alam semesta dan kehidupan adalah milik Allah. Jamaah haji hanyalah hamba yang lemah.
- Esensi:Pengakuan total atas anugerah Allah.
- “Wal mulk la syarika lak” (penutup)
- Esensi:Konsistensi tauhid. Mengulang “la syarika lak” setelah pujian dan nikmat menegaskan bahwa:
- Tidak ada satu pun makhluk yang berbagi kekuasaan denganNya (sifat berketuhanan kepada Allah).
- Ini sebagai bantahan terhadap klaim orang musyrik Arab yang mengakui Allah tetapi masih menyembah patung sebagai “pemberi syafaat”.
- Esensi:Konsistensi tauhid. Mengulang “la syarika lak” setelah pujian dan nikmat menegaskan bahwa:
Esensi Puncak Talbiyah
Para ulama (seperti Ibnu Qayyim dan Al-Ghazali) merangkum esensi Talbiyah dalam 5 tingkatan penghambaan:
- Ketaatan penuh (labbaika) → Menanggalkan pakaian jahiliyah (kesombongan, status sosial).
- Ketulusan (la syarika laka) → Membersihkan niat dari riya’, popularitas, atau tujuan duniawi.
- Kerendahan hati (innal hamda…) → Menyadari bahwa haji tidak membuat seseorang “istimewa” di sisi Allah; semua pujian kembali kepada-Nya.
- Ketergantungan mutlak (wan ni’mata laka) → Mengakui bahwa kemampuan melaksanakan haji adalah nikmat, bukan hasil kecerdasan atau harta sendiri.
- Peleburan ego → Saat mengucap “labbaik”, jamaah seolah berkata: “Aku bukan apa-apa. Panggilan-Mu adalah segalanya.”
Konteks Spiritual Saat Mengucapkan Talbiyah
- Simbolisme ihram: Seperti mayat yang dikafani → Meninggalkan identitas dunia (jabatan, suku, kekayaan).
- Suara bergema di padang Arafah, Muzdalifah, Mina: Setiap “labbaik” adalah pengakuan bahwa kehidupan adalah perjalanan kembali kepada Allah.
- Kontras dengan kehidupan modern: Talbiyah membangunkan manusia dari “keterpanggilan” palsu (panggilan gaji, status sosial, media sosial) menuju panggilan Ilahi.