Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa memahami kota Makkah saat ini sebetulnya sangat berbeda dengan Makkah yang dahulu, saat Rasulullah berada di sana. Kondisi geografis, sosial, dan budayanya pada abad ke-7 Masehi itu berbeda dengan sekarang. Makkah kala itu bukanlah kota metropolitan dengan gedung pencakar langit, kendaraan berseliweran, produk hasil teknologi semua tersedia, restoran menyajikan berbagai selera, melainkan sebuah wilayah dagang yang unik, terisolasi di lembah pegunungan tandus, dengan tatanan masyarakat yang sangat khas.

Berdasarkan penelusuran sumber-sumber sejarah dan kajian akademis, berikut adalah gambaran singkat bagaimana keadaan kota Makkah dahulu, pada masa sebelum dan saat Rasulullah ﷺ berdakwah.

Gambaran Umum: Lembah Tandus di Jantung Hijaz

Secara geografis, Makkah kuno sangat kontras dengan gambaran modernnya. Kota ini terletak di wilayah Hijaz, bagian barat Jazirah Arab, yang dikelilingi oleh pegunungan berbatu dan tandus . Al-Qur’an sendiri menggambarkannya sebagai “lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman” (Ibrahim: 37), sebuah deskripsi yang dikuatkan oleh para ahli geografi klasik . Keadaan alam yang keras ini menjadikan pertanian hampir tidak mungkin dilakukan, sehingga penduduknya harus bergantung pada sumber daya lain untuk bertahan hidup .

Topografi dan Tata Kota Makkah Dahulu

Alih-alih kota yang luas, Makkah di awal abad ke-7 M adalah kawasan yang relatif kecil dan terpusat. Berikut adalah elemen-elemen penting penyusun kota kala itu:

  • Jantung Kota: Masjidil Haram dengan Ka’bah di Pusatnya
    Di masa itu, Masjidil Haram belum berbentuk bangunan seluas dan sebesar seperti sekarang. Masjidil Haram hanyalah lahan terbuka, dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk, yang di tengahnya berdiri Ka’bah. Bangunan Ka’bah sendiri merupakan struktur sederhana dari batu, dan pada dindingnya terdapat Hajar Aswad yang dihormati. Tentu saja Ka’bah tidak berwarna hitam seperti yang sering kita saksikan. Meskipun demikian warna batunya cenderung agak kehitaman mirip warna batu pada umumnya, tetapi berbeda dengan warna Hajar Aswad. Di depan Ka’bah, terdapat sumur Zamzam yang menjadi sumber air utama bagi seluruh penduduk. Sumurnya kurang lebih sama seperti sumur pada umumnya di desa-desa di Indonesia dahulu. Hanya lubang kecil yang sedikit diberi penghalang, agar orang tidak terperosok ke dalamnya. Semua orang bebas mengakses ke sana dan bebas pula memanfaatkan air yang ada.
  • Pusat Pemerintahan dan Musyawarah: Darun Nadwah
    Di barat Ka’bah, terdapat bangunan penting bernama Darun Nadwah . Ini adalah semacam balai kota tempat para pemuka dan petinggi suku Quraisy berkumpul untuk bermusyawarah mengambil keputusan penting terkait kota, termasuk masalah perang, perdamaian, dan diplomasi.
  • Pasar dan Ruang Publik: Area Sa’i
    Ruang terbuka antara bukit Shafa dan Marwah, yang kini menjadi bagian dari Masjidil Haram. Kedua bukit Shafa dan Marwah itu juga digunakan sebagai tempat meletakkan berhala, patung yang disembah oleh penduduka kala itu. Pada masa Rasulullah berada di sana, lokasi itu salah satu pusat kehidupan paling ramai di Makkah. Area yang disebut Mas’a ini merupakan pasar (souk) utama, tempat para pedagang berjualan dan warga kota berinteraksi sehari-hari (Bersmbung besok).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *