Tapi Makkah tidak berhenti di kerinduan. Jika hanya kerinduan, ia bisa menjadi nostalgia belaka. Nostalgia justeru membuat terlena. Tujuan utama dari perjalanan ke Baitullah adalah transformasi. Pulang sebagai manusia yang berbeda.
Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“Barangsiapa yang datang ke rumah-Ku ini dengan niat baik, ia akan pulang dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Bukhari)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia pulang seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayi yang baru lahir. Bersih tanpa dosa. Putih tanpa noda. Itulah janji transformasi bagi mereka yang menjalani ibadah haji dan umroh dengan sungguh-sungguh.
Tapi sayangnya, banyak dari kita yang pulang umroh, lalu kembali ke kehidupan lama. Masih suka gibah. Masih suka marah. Masih lalai shalat. Masih pelit. Lalu kita bertanya, “Kenapa aku nggak berubah?” Jawabannya mungkin karena kita datang hanya sebagai turis, bukan sebagai peziarah.
Ulama besar Ibnul Qayyim berkata:
“Hati itu seperti burung. Cinta adalah kepalanya, harapan adalah sayap kanannya, takut adalah sayap kirinya. Jika kepala terpenggal, burung itu mati. Jika salah satu sayap patah, ia tak bisa terbang tinggi. Haji dan umroh adalah latihan untuk menerbangkan hati menuju Allah.”
Transformasi itu proses. Tidak terjadi instan hanya dengan menginjakkan kaki di Makkah. Ia terjadi ketika kita merenung di depan Ka’bah, ketika kita berdoa di Multazam, ketika kita minum air zam-zam dengan keyakinan bahwa ia bisa menjadi obat. Ia terjadi ketika kita pulang, lalu membawa pulang juga nilai-nilai yang kita pelajari di sana.
Sahabatku Fajar yang takut berubah itu sebenarnya sedang jujur pada dirinya sendiri. Ia takut karena ia tahu: perjalanan ke Makkah adalah perjalanan yang menuntut tanggung jawab. Setelah pulang, ia tak bisa hidup seenaknya. Setelah pulang, ia akan dituntut lebih oleh Allah, karena ia sudah diberi kehormatan menjadi tamu-Nya.
Tapi bukankah itu justru indah? Bahwa Allah masih memberi kita kesempatan untuk berubah. Bahwa di usia muda, kita bisa memulai hidup baru. Bahwa transformasi itu mungkin, selama kita mau membayar harganya: konsisten.