Makkah adalah Cermin

Ada seorang kawan, sebut saja namanya Fajar. Usianya 27 tahun, bekerja sebagai graphic designer di sebuah startup di Jakarta. Secara finansial, ia termasuk mapan. Tabungannya cukup. Ia sering bepergian ke berbagai kota di Indonesia untuk liburan. Ia juga sudah beberapa kali ke Singapore. Tapi ada satu hal yang selalu ia tunda: Umroh.

Bukan karena tidak mampu. Bukan karena tidak ingin. Tapi karena, dalam kata-katanya sendiri, “Gue masih takut. Takut setelah pulang umroh, gue nggak bisa jadi orang yang lebih baik. Takut jadi orang yang sama seperti sebelum berangkat. Mending nanti kalau gue sudah siap beneran.”

Ketakutan Fajar adalah bentuk kerinduan yang paling dalam. Ia takut kecewa pada dirinya sendiri, karena ia tahu Makkah bukan sekadar perjalanan biasa. Makkah adalah cermin yang akan memantulkan siapa dirinya sebenarnya. Bila kepada Fajar-Fajar yang lain kita tingkatkan ke pertanyaan: Kapan pergi Haji ? Maka jawaban klasik yang umum kita dengar, atau yang kita miliki adalah: “Nanti kalau sudah mampu” atau “Jika sudah ada panggilan” atau jawaban yang lebih miris “Ketika sudah tua nanti“.

2 Comments

    • Tarmizi S

      Alhamdulillah. Prof. Husni. Saya berfikir begitu dan rasanya kita memang perlu cermin yang jernih. Terima kasih. Mohon juga dukungannya terhadap Blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *