Istilah panggilan dalam ibadah haji memiliki akar yang sangat dalam, baik secara teologis, historis, maupun spiritual. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa ibadah ini sering disebut sebagai “panggilan Allah” (Dhuyufurrahman):
1. Perintah Nabi Ibrahim AS
Secara historis, istilah ini merujuk pada perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS setelah selesai membangun Ka’bah. Dalam Al-Qur’an (Surah Al-Hajj: 27), Allah berfirman:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Umat Islam meyakini bahwa gema seruan Nabi Ibrahim inilah yang terus mengetuk hati setiap mukmin untuk datang ke Tanah Suci hingga hari ini.
2. Kalimat Talbiyah sebagai Jawaban
Jawaban seorang jemaah haji terhadap panggilan tersebut diwujudkan dalam kalimat Talbiyah:
“Labaik Allahumma Labaik…” (Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah…)
Kata “Labaik” secara harfiah berarti “aku memenuhi panggilanmu”. Mengucapkan kalimat ini adalah pengakuan sadar bahwa keberangkatan seseorang bukan sekadar karena rencana pribadi atau kemampuan finansial, melainkan karena ia merasa sedang “diundang” oleh Sang Pencipta.
3. Konsep Tamu Allah (Dhuyufurrahman)
Para jemaah haji disebut sebagai Tamu Allah. Dalam logika manusia, seseorang tidak akan bertamu jika tidak ada undangan atau panggilan dari tuan rumah. Oleh karena itu, mereka yang bisa berangkat ke Baitullah dianggap sebagai individu terpilih yang telah mendapatkan “undangan resmi” secara spiritual.
4. Melampaui Logika Material
Disebut panggilan karena ibadah haji sering kali tidak selaras dengan perhitungan matematika manusia:
- Ada orang yang kaya raya namun belum tergerak hatinya atau selalu terhalang kendala teknis.
- Sebaliknya, ada orang dengan ekonomi terbatas yang secara “ajaib” mendapatkan jalan untuk berangkat.
Fenomena ini memperkuat keyakinan bahwa haji adalah soal kesiapan hati dan izin Tuhan, bukan sekadar ketersediaan uang.
Ibadah haji memang menjadi momen refleksi yang luar biasa, di mana seseorang meninggalkan segala atribut duniawi untuk memenuhi satu undangan besar. (Ciputat, 8 Mei 2026).
Achmad Habibullah
Seseorang yg melaksanakan haji karena mendapat tugas haji (PPIH) juga mendapatkan panggilan Nabi Ibrahim menjadi dhuyufurrahman. “Labaik Allahumma Labaik….”
Selamat menjalankan ibadah haji 2026 kepada semua teman2, semoga diberikan kelancaran, kesehatan, dan kekuatan serta menggapai hajjan mabruran.
Tarmizi S
Saya berfikir bahwa untuk memenuhi panggilan itu nabi Ibrahim sendiri tidak tahu. Hanya Allah yang mengerti. Makanya dalam sejarah tercatat ada yang digendong oleh anaknya, jalan kaki, naik sepeda, ikut Boss yang lagi bisnis di Makkah, dan macam-macam termasuk menjadi Petugas PPIH. Pokoknya seribu jalan ke Makkah. Mantaaaab