Pernahkah Anda bertanya kepada seseorang yang baru pulang dari Tanah Suci: “Bagaimana kesan Anda menunaikan haji atau umrah?”
Umumnya, jawaban yang mengalir bukan tentang ketenangan hati atau air mata di depan Ka’bah, melainkan soal perjalanan dari bandara ke Jeddah, keluh kesah tentang petugas yang kurang responsif, atau jarak hotel ke Masjidil Haram yang terasa jauh. Banyak yang menceritakan betapa melelahnya berjalan kaki, harga makanan yang melambung, atau kisah jamaah yang sempat tersesat di antara kerumunan. Tak jarang, yang paling diingat adalah soal fasilitas: “Makanan berlimpah, habis satu hidangan datang lagi.” Atau sebaliknya, pujian kepada mutawwif yang sangat membantu, hotel yang bersih, hingga layanan laundry yang murah dan praktis.
Memang, kenyamanan logistik penting. Namun, jarang sekali kita mendengar kisah tentang khusyuknya shalat di Masjidil Haram, tawaf yang mengucurkan air mata, atau lamanya berdiam di Raudhah serasa “berhadapan langsung” dengan Rasulullah ﷺ. Pertanyaan tentang kualitas ibadah sering kali tenggelam oleh narasi teknis perjalanan.
Ketika ditanya apakah manasik sebelum keberangkatan sudah memadai, jawabannya hampir selalu: “Cukup.”Bahkan, sebagian jamaah umrah berpendapat manasik tidak terlalu diperlukan. “Yang penting ikut saja mutawwif. Untungnya kami dibimbing oleh yang berpengalaman,” demikian alasan yang kerap terdengar. Padahal, manasik bukan sekadar simulasi tata cara ibadah, melainkan persiapan hati, pemahaman makna, dan pematangan niat. Menggantungkan kualitas ibadah pada “bagusnya mutawwif” sama saja memindahkan tanggung jawab spiritual kepada orang lain.
Di sinilah letak kekeliruan yang sering tak disadari: haji dan umrah dipandang sebagai urusan teknis penunjang, bukan sebagai momentum perjumpaan dengan Allah. Padahal, Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 196:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”
Kata lillāh di sini bukan sekadar tambahan, melainkan poros seluruh perjalanan. Setiap langkah, dari ihram hingga tahallul, harus berpusat pada kerinduan kepada-Nya, bukan pada kenyamanan fasilitas atau kelancaran logistik. Teknis perjalanan memang perlu diatur, tetapi jangan sampai menjadi tujuan. Yang utama adalah bagaimana kita sampai di sana dengan hati yang siap, memahami makna setiap ritual, dan pulang membawa perubahan—bukan hanya oleh-oleh fisik, tetapi oleh ruhiyah.
Haji dan umrah bukan liburan spiritual yang bisa diwakilkan pada pemandu, bukan pula checklist ibadah yang cukup diselesaikan secara mekanis. Ia adalah undangan Allah untuk membersihkan hati, memperbaiki niat, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Mungkin, sudah saatnya kita mengubah pertanyaan itu. Bukan lagi “Bagaimana perjalananmu?” melainkan “Bagaimana perjumpaanmu dengan Allah di sana?” Karena pada hakikatnya, haji dan umrah yang sempurna bukanlah yang paling nyaman secara logistik, tetapi yang paling mendekatkan kita kepada-Nya.
Semoga Allah menerima ibadah kita, menyempurnakan niat kita, dan menjadikan Tanah Suci bukan sekadar tujuan geografis, tetapi pintu menuju keridaan-Nya. Aamiin.