Di tengah hingar-bingar gemerlap pengalaman wisata ke kota Paris zaman kini, pertanyaan reflektif ini sering luput: Di mana posisi Makkah dalam daftar impian kita?
Pernahkah kita melihat teman kita yang pulang umroh mendapat validasi sosial yang sama dahsyatnya? Mungkin ada, tapi lebih sering kita temukan postingan umroh yang sunyi, hanya diikuti background Ka’bah dengan caption do’a yang khusyuk. Jarang terlihat photo ria di lokasi ziarah. Jarang yang membuat konten “GRWM (Get Ready With Me) untuk Tawaf” dengan musik latar yang inspiratif.
Makkah seperti tersisih dari arena “flexing”. Ia hanya menjadi urusan privat, personal, dan sakral. Sementara Paris adalah urusan publik, ajang pamer, dan kebanggaan kolektif.
Fenomena ini bukan soal salah dan benar secara hitam-putih. Ini soal kompas hati. Ketika mimpi untuk “bisa foto di Trocadéro dengan latar Eiffel” terasa lebih mendesak dan membara daripada mimpi “bisa sujud di Raudhah”, maka di situlah kita perlu bertanya: “Ada apa dengan diriku?”
Obsesi terhadap Paris bukanlah dosa. Tapi ketika obsesi itu melupakan yang wajib, menggeser yang utama, dan membuat kita buta pada panggilan jiwa yang lebih dalam, maka ia telah menjadi penyakit hati yang halus. Paris, dari sebuah mimpi indah, perlahan bisa berubah menjadi tirai yang menghalangi kita melihat cahaya dari Makkah.
Coba lihat di linimasa media sosial kita. Bandingkan jumlah postingan bertema “Liburan Eropa” vs “Umroh” dalam sebulan terakhir. Atau tanya pada diri kita sendiri: mana yang lebih mudah diingat, postingan umroh teman-teman atau postingan liburan teman kita ke Swiss? Jawabannya mungkin akan sedikit membuat kita tersentak.
Maka, babak pertama tulisan dalam blog ini adalah sebuah ajakan untuk jujur. Mari kita bedah bersama: kapan mimpi indah tentang jalan-jalan ke Paris itu mulai menjelma menjadi obsesi yang menutup pintu hati kita dari panggilan Kota Suci, Makakah dan Madinah? Bukan untuk berhenti bermimpi ke Paris, tapi untuk memastikan bahwa di puncak daftar impian kita, Masjidil Haram dan Raudhah tetap menjadi bintang yang paling terang. Karena jika tidak, mungkin kita sedang membangun menara mimpi di atas tanah yang rapuh.