Hidup di era media sosial seringkali terasa seperti menonton trailer film orang lain. Kita melihat potongan-potongan terbaik dari kehidupan mereka—yang dibungkus rapi dengan filter aesthetic, musik yang syahdu, dan caption puitis. Dan di antara semua trailer itu, ada satu “film” yang paling sering menjadi blockbuster: Liburan ke Eropa, khususnya Paris.
Pernah nggak sih, kamu scroll Instagram atau TikTok, lalu tiba-tiba muncul konten seseorang yang sedang selfie di depan Menara Eiffel? Atau video singkat mereka menikmati croissant di kafe kecil pinggir jalan dengan latar arsitektur khas Paris yang romantis? Lalu tanpa sadar, kamu berpikir, “Kapan ya gue bisa kayak gitu?” atau bahkan, “Alhamdulillah, tahun depan gue harus ke sini!”
Ahmad Farid
Ya saya sering mrmbayangkan minum kopi di kanal kanal yg tenang di Belanda…anak skrg bilang SLOW LIVING
Tarmizi S
Betul pak farid. Sekarang semua anak saya, bahkan sudah nular ke cucu, pikrannya cuman jalan-jalan aja. Dan ngak cukup domestik, maunya keluar. Di rumah yang lagi hit ngomongin Jepang. Kemarin rame soal salju di Saporo. Tapi sudah janjian planing ke Makkah. Alhamdulillah.
Aden
Saya Termasuk yang doyan traveling, jadi keinginan untuk bertualang sangat sering. Apalagi kalau melihat orang lain terlebib temen yang posting, terkadang beefikir kenapa dia bisa saya ngga.
Tarmizi S
Normal sih. Apalagi cowok. Saya yang sebetulnya agak lebih suka di rumah, tapi history nyeret saya jadi suka kelayapan juga. Itu antara lain yang mendorong lahirnya “Jejak Langkah” meski langkahnya belok-belok.
Suryadi Nomi
Traveling secara propan atau berziarah secara spiritual muara maknanya sama yaitu perjalanan mentadabburi alam semesta raya ciptaan Allah SWT. Berbahagialah bagi orang-orang yang dapat melakukannya.
Tarmizi S
Memang ada dan banyak dalil nash nya antara lain: Siiru fil ardhi fan dzuru kaifa kana aqibatul mukadzdzibin”.
Rusydy Zakaria
Dulu waktu kecil traveling ke luar negeri memang jadi mimpi, ttp setelah bekerja ternyata traveling itu bisa diwujudlan baik dengan uang sendiri maupun fasilitas dr tempat kerja. Nah saya sempat melakulan dgn cara kedua-duanya. Saya sempat traveling ke Kots Shanghai China dan Sydney dr fasilitas kerja dan mengunjungi Kota Suci Mekah dan Madinah untuk mengerjakan Ibadah. Kuncinya ada niat – kesempatan – keinginan dan tentu ada uang….
Tarmizi S
Hahahahaha mantab. Betul sekali. Dulu sempat juga ngiri saat harus ngisi formulir ke negara mana saja yang pernah anda kunjungi. Sekarang sama cucu sedikit bisa nyombong: semua benua udah di injek !
Mbak Ros el Madury. Kepri.
Terimakasih, kebetulan saye pejalan juga terutama wisata lokal di Indonesia , klo diluar sebagian kecil saja, memang betul mimpi itu menjadi obsesi , apalagi klo lihat iklan aduhai…berhayal terus kapan dan kapan bisa kesana lebih2 karena sudah lansia hehe pinginnya dg sering travelling akan awet muda ,salam buat dinda Idho’ kangennnn banget.
Tarmizi S
Ya betul mbak Ros. Mungkin semua kita sama. Prinsipnya kita selalu menginginkan yang kita belum punya, baik barang, dan pengalaman. Mudah-mudahan yang lain juga; seperti: rasa senang bahagia, ilmu, tentu masuk surga. Jadi itu wajar saja. Di sini mumpung Ramadhan kita berdo’a, semoga keinginan di ijabah oleh Allah swt. Salam kembali. Katanya kangen. Masih kepingin ke sana tapi takut naik perahu.
Ari Gunawan
Wa’alaikumussalam wr wb .. mantaap pak Tarmizi👍Dulu (wkt masih kerja) saya sering berangan-angan bisa jalan2 kemana-mana (tentunya dng biaya kantor hahaha …). Klo sekarang masih tetap semangat jalan2 lokal saja menyusuri jalur klasik: Jkt – Bandung – Cilacap – Wonosobo – Magelang – Yogya – Salatiga – Semarang … ngga bosen2😁
Tarmizi S
Beruntung bapak masih lanjut. Saya udah hampir nggak. Untuk menjaga atmosfirnya saya “memaksakan diri” ikut Ziarah Walisongo dan juga Ziarah Banten. Masing2 satu kali setiap tahun. Nah untuk perjalanan internasionalnya tetap berdo’a ke Makkah. Kalau ada panggilan saja (sayangnya panggilan bukan lewat HP. Hehehehe)