Jika kita bicara tentang ibadah umroh, Indonesia adalah pemain utamanya. Bukan hanya karena jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia (sekitar 240 juta jiwa atau 87% dari total populasi), tapi karena kecintaan yang luar biasa terhadap Tanah Suci.
Data terbaru menunjukkan lonjakan yang spektakuler. Pada tahun 2019, jumlah jemaah umroh Indonesia tercatat sekitar 974.650 orang. Lalu pandemi datang, semuanya terhenti. Tapi begitu pintu dibuka, masyarakat Indonesia seperti kerinduan yang tak terbendung. Tahun 2023, angka melonjak menjadi 780.000 jemaah. Dan puncaknya di tahun 2024: 1,8 JUTA jemaah umroh asal Indonesia berangkat ke Tanah Suci!
1,8 juta orang. Coba bayangkan. Itu setara dengan populasi kota Bandung atau Surabaya pindah ke Makkah dan Madinah dalam setahun. Pertumbuhannya mencapai 84,7% dalam lima tahun terakhir—sebuah lompatan yang mencengangkan .
Bahkan di awal tahun 2025, hingga bulan April saja, sudah tercatat 648.485 jemaah yang berangkat. Artinya, momentum ini tidak menunjukkan tanda-tanda melambat .
Indonesia secara resmi menjadi negara pengirim jemaah umroh TERBESAR di dunia. Mengalahkan Pakistan (1,2 juta), India (800 ribu), dan Bangladesh (600 ribu). Bahkan Turki dan Mesir yang secara historis dekat dengan Timur Tengah, berada di bawah kita .
Dampak Ekonominya? Dengan rata-rata pengeluaran per jemaah mencapai Rp 44,44 juta, Indonesia mengalirkan sekitar Rp 80 triliun ke ekonomi Arab Saudi dalam setahun . Bayangkan, uang sebanyak itu bisa membangun ribuan sekolah, rumah sakit, atau infrastruktur di negeri sendiri. Tapi ini bukan soal uang—ini soal seberapa besar cinta dan kerinduan kita pada Baitullah.
Data ini menunjukkan satu hal yang ironis: Secara kuantitas, umroh justru meningkat pesat. Lalu di mana masalahnya?
Masalahnya ada di narasinya. Di validasi sosialnya. Di seberapa bangganya kita menceritakannya.