Di tengah hiruk-pikuk Makkah, Jakman, seorang jamaah haji dari Kotabumi Lampung, menyimpan satu amanah kecil di sakunya: uang riyal Saudi sebesar SR 150. Itu bukan uang biasa. Itu titipan keluarga dari kampung, yang diniatkan khusus untuk membeli sajadah sebagai oleh-oleh pulang dari Tanah Suci. Ia ber’azam, uang itu akan dipakai persis seperti niatnya.
Di sebuah toko dekat Masjidil Haram, Jakman menemukan sajadah yang cocok, dengan komposisi warna yang indah dan menarik. Harganya pas: SR 150. Tanpa berpikir panjang, ia mengeluarkan uang pecahan SR 500 dari dompetnya, membayar, dan menerima kembalian SR 350. Ia tidak menghitung lagi kembaliannya. Kebiasaan lama masih terbawa: “Ah, pasti benar.”
Baru saat tiba di hotel dan merogoh saku, ia terkejut. Uang SR 150 titipan keluarga raib. Yang tersisa di kantong hanya SR 350 kembalian dari penjual sajadah. Ia tidak belanja yang lain. Tidak juga jajan membeli makanan atau minuman.
Jantungnya berdebar. Tiba-tiba, nasihat orang tuanya terngiang jelas di telinga: “Jika dititipi uang, jangan diganti dengan yang lain. Serahkan persis seperti yang diamanahkan. Jangan tukar, jangan campur, jangan utik-utik.”
Saat itu Jakman baru sadar, mengapa Allah mengatur kejadiannya sedemikian rupa. Uang titipan itu seolah “ditarik” kembali, bukan sebagai hukuman, tapi sebagai pengingat halus: amanah tidak boleh diutak-atik. Jangan gunakan logika sendiri.
Harus selalu disadari, di Makkah, setiap jama’ah adalah Tamu Allah.
Dan sebagai tamu, adabnya adalah menjaga kepercayaan, berkata jujur, dan tidak melampaui batas. Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin mengingatkan bahwa amanah bukan hanya soal harta besar atau jabatan tinggi. Bahkan uang titipan SR 150 pun punya nilai di hadapan Allah. Di Tanah Suci, di mana setiap napas terasa dekat dengan-Nya, Allah sering memberikan “peringatan lembut” lewat kejadian sehari-hari yang sederhana. Bukan untuk mempermalukan, tapi untuk mendidik hati agar lebih jujur, lebih teliti, dan lebih takut kepada-Nya.
Ulama juga sering menekankan: Makkah adalah tempat di mana tirai hijab antara hamba dan Allah terasa paling tipis. Di sinilah doa lebih mudah didengar, dosa lebih cepat diampuni, tapi juga di sinilah hati paling mudah diuji. Maka bertindaklah sebagai tamu yang baik. Kita adalah tamu yang diundang, bukan tamu yang tak diundang, masuk tanpa izin.