Matahari Yaman membakar padang tandus. Di sebuah gubuk kecil, seorang pemuda berwajah teduh duduk menunduk di hadapan ibunya yang terbaring lemah. Namanya Uwais bin Amir, seorang penggembala kambing yang pakaiannya sederhana, tapi hatinya seluas langit.
Sore itu, sang ibu berbisik lirih, suaranya bergetar menahan rindu yang sudah puluhan tahun dipendam.
“Anakku… Ibu ingin sekali melihat Ka’bah. Ibu ingin wukuf di Arafah, bersujud di depan Baitullah… walau hanya sekali seumur hidup.”
Uwais menggenggam tangan ibunya yang keriput. Air matanya jatuh. Dia tahu, ibunya sudah lumpuh. Tubuhnya ringkih, kakinya tak lagi sanggup melangkah. Unta pun tak ada. Harta tak punya. Jalan ke Mekkah sejauh 700 km lebih, melewati gunung, gurun, dan terik yang bisa melelehkan batu.
Tapi bagi Uwais, “tidak mungkin” tidak ada dalam kamus anak yang berbakti.
Rencana Gila yang Penuh Cinta
Keesokan harinya, orang-orang desa heboh. Uwais membeli seekor anak sapi kecil. Setiap pagi, dia menggendong anak sapi itu naik turun bukit. Orang-orang menertawakan.
“Uwais sudah gila! Masa sapi digendong, bukan dituntun!”
Uwais diam saja. Senyumnya tenang. Hari demi hari, anak sapi itu tumbuh. Dari 10 kg, jadi 30 kg, jadi 70 kg. Tubuh Uwais pun ikut ditempa. Otot lengannya mengeras, punggungnya menjadi kokoh, napasnya menjadi panjang. Apa yang dulu terasa berat, kini jadi ringan karena sudah jadi kebiasaan.
Delapan bulan berlalu. Musim haji tiba. Anak sapi itu kini berbobot hampir 100 kg — seberat tubuh manusia dewasa.
Dan saat itulah orang-orang paham. Semua latihan itu bukan kegilaan. Itu adalah cinta yang sedang merencanakan mukjizatnya sendiri.
Perjalanan Seorang Anak dan Ridha Ibunya
Dengan bismillah, Uwais menurunkan anak sapi itu. Lalu dia membungkuk di hadapan ibunya.
“Ibu, naiklah ke punggungku. Anakmu ini akan membawamu ke rumah Allah.”
Sang ibu menangis. “Nak, kamu akan mati kepayahan…”
Uwais menggeleng sambil tersenyum. “Delapan bulan Allah melatihku lewat anak sapi itu, Bu. Ini bukan aku yang kuat. Ini Allah yang menyiapkan aku untuk Ibu.”
Maka berangkatlah mereka. Dari Yaman ke Mekkah. Langkah demi langkah. Punggung Uwais menjadi kendaraan. Keringatnya menjadi bahan bakar. Zikirnya menjadi penguat. Ketika pasir gurun membakar telapak kakinya, dia ingat wajah ibunya. Ketika angin gunung menusuk tulang, dia ingat doa ibunya.
Berminggu-minggu mereka tempuh. Tak ada keluhan, hanya ada “Alhamdulillah” di tiap helaan napas.
Di Depan Ka’bah, Doa yang Menggetarkan Langit
Sampailah mereka di Arafah saat wukuf. Uwais berdiri tegap, masih menggendong ibunya yang gemetar memandang Ka’bah untuk pertama kalinya. Air mata sang ibu tak berhenti mengalir.
“Ya Allah… terima kasih… Kau kirimkan aku anak semulia ini.”
Di depan Ka’bah, Uwais menunduk. Dia berbisik dalam doanya:
“Ya Allah, ampuni semua dosa ibuku. Hapuskan air matanya, gantikan dengan surga-Mu.”
Ibunya menoleh, heran. “Anakku, kenapa hanya mendoakan Ibu? Bagaimana dengan dosamu sendiri?”
Uwais menjawab, suaranya bergetar:
“Bu, dengan Ibu diampuni, itu sudah cukup bagiku. Jika Ibu ridha, aku yakin Allah akan memasukkanku ke surga-Nya. Ridha Ibu adalah pintu surga bagiku.”
Saat itu juga, penyakit kulit yang bertahun-tahun menempel di tubuh Uwais sembuh. Tinggal tersisa satu bulatan putih di tengkuknya — tanda yang kelak membuat Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib mengenalinya, sesuai pesan Rasulullah SAW.
Uwais tak pernah bertemu Rasulullah. Dia memilih merawat ibunya daripada pergi ke Madinah. Tapi justru karena baktinya itulah, Rasulullah menyebut namanya dari jauh: “Dia penghuni langit yang tidak dikenal di bumi.”